SAYA AKAN MELAKUKANNYA, TAPI SETELAH INI..

Dalam sebuah kesempatan training menulis, kami diberikan tugas untuk menulis sebuah kolom dalam waktu 2 jam. Karena belum punya ide, saya  akhirnya memilih untuk facebookan sambil berharap, mungkin bisa mendapat inspirasi. Lantas ada teman yang bertanya, mengapa saya malah facebookan dan tidak menulis? Dan sayapun menjawab dengan sedikit becanda  “Nulis sih cukup 30 menit. Cari inspirasinya 1,5 jam”. Dan salah satu teman yang lain memberi respon “bisa-bisanya cari alasan. Lha kalau 1,5 jam ga ketemu?”. Sayapun kemudian berpikir kembali. Apa benar ketika saya memilih untuk facebookan saya sedang mencari inspirasi, atau menunda apa yang seharusnya saya kerjakan? Walaupun pada akhirnya saya memang mendapatkan inspirasi untuk  membuat tulisan ini karena facebookan tadi.

Menunda dengan Alasan yang Baik

Saya pernah membaca sebuah buku terbitan Metanoia yang ditulis oleh Jerry & Kirsti Newcombe, dengan judul “Saya Akan Melakukannya Besok”. Sebuah buku yang menarik tentang mengatasi kebiasaan menunda. Ada 1 bagian dari buku itu yang membuat saya cukup kaget, yaitu pembaca diminta untuk berhenti membaca buku itu saat itu juga, jika pembaca sadar bahwa dia sedang menunda sesuatu yang penting.

Sadar tidak sadar, banyak orang yang memiliki alasan seperti ini dalam menunda. Ketika saatnya untuk melakukan suatu hal yang mungkin membutuhkan konsentrasi yang besar, tenaga yang lebih, atau waktu yang lebih lama, kita justru memilih untuk melakukan “hal baik” lainnya yang tidak terlalu memakan energi. Lantas kita mencoba menghibur diri kita sendiri, bahwa kita sudah melakukan hal yang baik, untuk mengatasi rasa bersalah yang mungkin muncul. Jika kita menunda  dengan mengerjakan hal lain yang tidak produktif, seperti tidur, main, atau bercengkrama berlama-lama, tentu tekanan rasa bersalah yang muncul dalam diri kita akan lebih besar. Akan berbeda jika kita menjadikan “hal baik” yang lain sebagai pelarian, karena keengganan kita untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan saat itu. Sebuah teknik lari dari rasa bersalah yang cerdik dan terselubung.

Akibat yang Muncul di Luar Prediksi

Apapun dan bagaimanapun penundaan itu, secerdik apapun bentuk penundaan itu, menunda tetaplah menunda. Penundaaan seringkali dimulai karena kita merasa bisa mengerjakan sesuatu dalam waktu yang lebih cepat. Sehingga pada akhirnya kita memilih untuk mengerjakannya pada waktu yang kita sangka kita sanggup tadi. Tapi penundaan selalu mengabaikan kemungkinan bahwa di waktu yang kita perkirakan sanggup kita selesaikan, sangat mungkin terjadi hal-hal diluar prediksi kita. Pada akhirnya, kita sendiri yang dirugikan oleh kebiasaan menunda itu. Bukan hanya diri kita. Sangat mungkin orang lainpun bisa merasa dirugikan oleh penundaan kita. Bayangkan jika seorang mekanis pesawat menunda untuk memperbaiki kerusakan kecil. Tentu akan jadi sesuatu hal yang ironis jika kerusakan kecil itu mengakibatkan kecelakaan yang mungkin saja merenggut banyak jiwa.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah pertanyaan dari rekan facebook saya tadi: bisa-bisanya cari alasan. Lha kalau 1,5 jam ga ketemu?

STOP MENUNDA!!

About akhung

I have decided to follow Jesus; No turning back. Leave everything to do Lord's will is not a sacrifice. But a mercy Lihat semua pos milik akhung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: