Between me, her, and GOD

10 Agustus 2008

Dia makin terlihat menarik. Apakah harus segera kukatakan perasaan ini?

Kami pulang dari KRB 2008, sebuah kamp kepemimpinan Perkantas Jawa Timur, dan kebetulan duduk bersebelahan di bus – sejujurnya ga kebetulan. Aku sengaja mengincar tempat di sebelahnya. Dan pas kosong.😉 -.   Sudah 3 tahun aku mengenalnya. Aku lupa kapan mulai muncul perasaan itu. Yang pasti sudah cukup lama, lebih dari setahun yang lalu. Kami bersahabat. Aku cukup mengenalnya, dan aku tahu kelebihan dan kekurangannya. Dan harus kuakui, banyak sisi-sisi kekuatannya yang menjadi sisi kelemahanku. Demikian sebaliknya. Aku pernah sharing dengan 2 sahabatku (yang pertama kali menjodoh-jodohkanku dengannya). Dan mereka mengatakan bahwa karakter kami saling melengkapi. Namun waktu itu tak ingin segera mengatakannya. Aku belum mau menjalani relasi. Aku masih ingin menikmati masa-masa terakhirku kuliah, menikmati masa-masa bisa melayani Tuhan dengan bebas di kampus. Lebih dari setahun ini aku mendoakannya. Apakah suatu saat aku akan mengatakan padanya? aku berdoa agar biar lewat relasi yang natural, aku bisa mengenali dia lebih dalam, dan aku bahkan hampir tidak melakukan usaha khusus untuk membuat dia tertarik. Biarlah dalam persahabatan yang natural, aku bisa mengenalnya dan mengetahui kehendak Allahku.

Dan kini masa-masa itu telah berlalu. Aku baru saja lulus, dan akan bekerja. Sejak aktif melayani Tuhan di kampus, aku merasa bahwa panggilanku adalah melayani Tuhan di kalangan mahasiswa. Bentuknya seperti apa? Pemikiran logisku berkata bahwa dengan jadi dosen di universitas di Kupang, aku bisa menggabungkan antara ketertarikanku dalam bidang studiku, dan kerinduanku untuk bisa mengerjakan pemuridan di kalangan mahasiswa.

Dan hari ini, di bus itu, kami bicara panjang lebar tentang kerinduan masing-masing. Diapun rindu untuk suatu saat pulang ke Kupang, dan punya beban dalam bidang pendidikan.  Menurutku, kerinduan kami sejalan.

Apakah harus segera kukatakan perasan yang selama ini kusimpan?

Ya. Akan kukatakan minggu ini. Tuhan, tolong berikan aku kesempatan untuk mengajaknya keluar berdua.

12 Agustus 2008. Kesempatan yang tidak direncanakan

Sms masuk dari dia. “kak, bisa temani aku ke Carrefour ga sore ini? Mau belanja bulanan”.

Kesempatan datang!! Segera kusiapkan kata-kata yang akan kukatakan padanya nanti.

Sore itu kamipun pergi. Jalan kaki, dari daerah kampus Petra, menuju Carrefour di Ahmad Yani. Dan bisa di tebak, sepanjang jalan aku terus berusaha mengingat-ingat apa yang harus kukatakan padanya nanti🙂

12 Agustus 2008 Malam – Shock!!

Kami pulang dari Carrefour, berjalan kaki di dalam keheningan. Tanpa sepatah katapun. Ternyata dia shock karena tidak pernah menyangka aku punya perasaan padanya. dia menganggapku selama  ini sebagai sahabat, sebagai kakak. Sebenarnya aku tidak langsung mengajak dia jadi pacarku. Aku bertanya, apakah dia mau untuk mendoakan dulu bersama-sama mengenai relasi ini? menggumulkan bersama di hadapan Tuhan. Namun itu sangat mengejutkannya. Dan sesudah itu, kami hampir tidak berkomunikasi. Dia menghindar.

14 Agustus 2008

Setelah dua hari tidak bertemu dan tidak berkomunikasi dengan dia. Waktu bertemu di acara pelepasan wisudawan Pelayanan Mahasiswa (dan aku salah seorangnya), sikap dia sangat dingin dan menghindar. Hanya sebuah ucapan selamat yang dingin dan serba salah tingkah yang dia katakan padaku.

Dan malam itu, aku sms : “San, ketika aku berani mengatakannya padamu, aku siap dengan apapun konsekuensinya termasuk kamu menolakku. Tapi aku ga mau kehilangan sahabat. Kalau itu mengganggumu, aku siap di tolak

Aku tak mengharapkan dia merespon smsku, tapi ternyata respon itu datang. Dan respon positif pertama sepanjang 2 hari ini. Dan dia memberikanku kesempatan untuk menjelaskan kenapa aku mencintainya? Dan aku memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin.

21 Agustus 2008. Sebuah jawaban

Tadi malam dia SMS, bahwa dia akan memberi jawaban malam ini, apakah dia mau untuk berdoa dan menggumulkan relasi ini bersama atau tidak. Sepanjang hari itu deg-degan menanti malam tiba.

Siang itu aku KTB dengan 2 adik KTBku. Salah seorang tiba-tiba berkata bahwa dia mimpi aneh. Dia bermimpi menghadiri pernikahanku dan pasangannya adalah wanita itu. Sungguh aneh. Yang seorang lagi mengatakan bahwa dia juga menangkap gelagat aneh dari diriku tiap kali memandang wanita itu. dan dia bertanya “Apakah k Akhung suka padanya?”

Apakah ini kebetulan? Aku bahkan tak pernah mengatakan pada adik ktbku tentang itu. Sesudah itu baru kuceritakan ke mereka tentang proses yang terjadi

21 Agustus 2008, Malam – Harapan yang Bersemi

Jawabannya adalah Dia mau mendoakan. Senang sekali. Sampai kapan? Belum tahu. Ok. Aku akan menunggu.

Proses Pergumulan Bersama

Apa yang kami lakukan dalam masa-masa pergumulan?

  • Berkomunikasi lebih intensif. Membuka diri untuk saling mengenal satu dengan yang lain
  • Ada jadwal untuk kami bertemu, berdoa bersama, berdiskusi tentang relasi kami, sharing tentang pertumbuhan pengenalan kami satu dengan yang lain
  • Berusaha melibatkan orang-orang dekat dan komunitas rohani dalam pergumulan kami
  • Banyak melakukan aktifitas bersama, pelayanan bersama, jalan-jalan berdua, dan lain-lain. Yah, sebagaimana orang lagi pendekatan.

21 Desember 2008

4 bulan bukan waktu yang singkat untuk bergumul. Tapi akhirnya dia mau untuk jadi pacarku. Pacar pertamaku. Kami membuat beberapa komitmen bersama yang kami catat. Terkait kekudusan dalam relasi, fokus utama yang harus pada Tuhan, dan 1 komitmen yang paling kuingat adalah:

“ kami ingin relasi ini hingga pernikahan. Namun kami tidak tahu apakah Tuhan akan terus memimpin relasi ini hingga pernikahan. Yang pasti, kami mau relasi ini tidak akan menjadi relasi yang disesali. Kalaupun suatu saat kami harus putus, kami akan mengucap syukur bahwa relasi ini menolong kami bertumbuh, makin dewasa di dalam Tuhan, dan memimpin kami untuk makin mencintai Dia dan taat padaNya.

Dan kami berjuang agar relasi sungguh-sungguh menolong kami bertumbuh. Tidak mulus memang, ada saat-saat kami gagal dan terjebak untuk fokus pada satu dengan yang lain lebih dari pada Tuhan. Tapi proses relasi ini sungguh menjadi proses yang berharga dan sangat mendewasakan.

Maret 2010. InterupsiNya yang Pertama

Tuhan membelokanku. Aku sudah bekerja 2 tahun, dan sesuai dengan planning hidupku, setelah bekerja 2 tahun, aku akan studi lanjut, dan mempersiapkan diri untuk kembali ke kotaku, dan berkarya di kalangan mahasiswa. Namun Tuhan berkata, bukan itu yang Dia mau. Dia menginginkanku untuk langsung terjun mengerjakan panggilan pemuridan di mahasiswa. Bukan dosen yang sambil memuridkan, tapi terjun langsung. Bagaimana dengan ilmu IT yang juga sangat kunikmati? Di Perkantas ada departemen Multimedia. Jadi klop. Bahkan Tuhan mempersiapkan skill-ku pun untuk menunjang pelayanan pemuridan.

2 hal yang memberatkan adalah respon orang tuaku dan respon dia. Tapi passion dan sukacita untuk segera terjun ke ladangNya tak tertahankan.

Tuhan memberi segalanya, Tuhan meminta segalanya. Tapi apa yang Dia minta tak sebanding dengan apa yang sudah Dia berikan

All that I have,

All that I am,

All that I hope to be,

I give to You…..

Tetap melanjutkan sambil menantikan waktuNya

Dia menangis ketika kukatakan padanya tentang panggilan Tuhan.  Dia pernah menghadapi kondisi ketika dia harus menghadapi “konsekuensi” dari keputusan kakaknya menjadi staf Perkantas. Dan kini pacarnya juga. Apalagi ini artinya ada kemungkinan kami akan berbeda panggilan, bahkan berbeda kota. Apakah mungkin relasi akan bertahan?

Dia mempertanyakannya. Kok berubah? Bukannya dulu yang kubilang berbeda? Aku meminta maaf atas perubahan ini. Ini tidak pernah masuk dalam perencanaanku.

Dan relasi inipun terus kami lanjutkan, sambil dia terus berdoa untuk panggilannya.  Aku berharap jalan yang akan ditunjukan Tuhan padanya adalah tetap bersamaku. Tapi aku terus belajar percaya bahwa Tuhan tahu yang terbaik.

September 2011, Tanda perpisahan yang sedikit terlihat

Setelah Misi Kalimantan Perkantas ke desa Tamong yang ke tiga, tiba-tiba dia berkata, ada kerinduan yang kuat untuk suatu saat tinggal di sana. Aku sama sekali tidak sedih dan tidak berusaha mencegahnya waktu itu. Justru aku kagum karena dia berani mendoakan itu. Orang yang mengenalnya tak mungkin pernah membayangkan kalau dia punya beban itu. Dia sudah sangat berubah. Waktu itu kukatakan, doakan saja.

Namun, setelah beberapa bulan, ketika kutanyakan lagi tentang pergumulannya, tampaknya sudah tidak terlihat lagi kerinduan itu.

Maret 2012. InterupsiNya yang Kedua.

“Kak. Dulu aku yang tidak setuju dan marah ketika kakakku dan k Akhung mengambil komitmen untuk melayaniNya sepenuh waktu. Namun kini aku pun mengambil keputusan yang sama.”

Wow. Sekali lagi melihat betapa dahsyatnya Tuhan mengubah hati manusia. dan kini dia pun akan mengambil langkah yang sama denganku dulu.

Terlibat dalam pergumulan dan persiapan dia sebagai staf Perkantas. Aku berpikir ini tanda bahwa relasi kami akan terus hingga pernikahan. Kami sudah sejalan sekarang. Bahkan kami bertemu beberapa kali untuk konseling dengan salah seorang kakak staf senior yang menolong kami, bagaimana agar relasi kami bisa menolong kami bisa efektif dalam melayaniNya, dan sekaligus mempersiapkan diri menuju pernikahan.

3 Juli 2012 @Bandara Supadio Pontianak. InterupsiNya yang Ketiga

“Kak. Dorongan untuk kembali tinggal di sana sangat kuat. Jauh lebih kuat dibanding yang dulu. Rasanya tak sabar ingin segera terjun langsung, menjadi guru, dan sekaligus bisa mengerjakan pemuridan di sana. Dan dengan keputusan itu, kita tidak mungkin bersama”

Dia mengatakan itu di bandara Supadio, ketika kami pulang dari perjalanan misi yang ke-4 ke Desa Tamong. Dari cara dia sharing, aku tahu bahwa dia sangat-sangat serius kali ini, dan perasaanku mengatakan bahwa dia akan pergi suatu saat.

Dia bertanya : “K Akhung ga marah kan kalau itu artinya kita harus mendoakan kembali relasi ini?”

Ku jawab : “Kalau itu pimpinan Tuhan bagimu, kenapa aku harus marah? Kalau aku marah berarti sama aja marah sama Tuhan”

Logikaku masih bisa membuatku tidak merasa sedih. Aku tahu bahwa aku dan dia harus taat pada Tuhan lebih dari apapun. Dan mau atau tidak mau aku harus siap. Namun ketika malam, rasa itu muncul.

9 Juli 2012, A&W Rungkut

1 minggu ini kami saling menjaga jarak. Agar dia bisa lebih fokus menguji pimpinan Tuhan. Hingga akhirnya malam ini kami bertemu dan berbicara. Kami memutuskan untuk mendoakan selama 1-2 bulan. Aku memberi usul, gimana kalau sampai 21 Agustus. Biar tepat 4 tahun sejak kami mau untuk bergumul dan bersama. Pertemuan ini sedikit memancing sisi melankolis kami masing-masing. 🙂 Posisi kami saat ini bukan lagi menggumulkan panggilan. Bagiku panggilan Tuhan sudah jelas. Dan bagi dia pun sudah jelas. Proses ini kami jalani untuk menguji kembali sambil menantikan Tuhan berbicara, sekaligus untuk memberi waktu yang lebih lama baginya untuk menguji, apakah ini euforia sesaaat atau benar-benar pimpinan Tuhan. Juga mempersiapkan kami untuk putus. Kami memulainya dengan berdoa dan bergumul bersama. Dan kami mau untuk mengakhirinya pun dengan sama-sama bergumul di hadapan Tuhan.

Pulang dari sana, dia menulis sebuah tulisan yang menggambarkan sekilas tentang pergumulannya. You can read it here:  My L****  Story.

15 Juli 2012 Hurt me the most

Ada sebuah hal yang terjadi kemarin. Aku marah sekali padanya. Tapi aku bersyukur Tuhan menguatkanku untuk menahan diri. Apalagi kemarin momen pernikahan sahabatku dan kami adalah panitianya. Aku tak ingin momen itu jadi rusak karena aku tak bisa menahan diri. Dan yang lebih disyukuri, aku mendapatkan penghiburan dan kekuatan dari Tuhan kemarin malam ketika aku berdoa. Sungguh indah ketika Tuhan menjadi tempat penghiburan yang pertama. Dan lebih daripada itu, aku bersyukur karena hari ini kami sudah membereskannya, ketika kami PA bersama tadi.

18 Juli 2012

Kakak yang selama ini menolong kami dalam menggumulkan relasi menyarankan kami untuk bergumul lebih lama. 6 bulan. Jujur itu waktu yang sangat lama, karena kami sudah merasa yakin dengan jalan kami masing-masing. Justru dalam beberapa hari ini, pergumulan relasi ini cukup mengganggu fokus kami dalam melayani Dia. Tapi kami tahu bahwa kami tidak boleh mengambil keputusan tanpa ada petunjuk yang benar-benar jelas dari Tuhan. saatnya menanti dengan sabar dan tidak terburu-buru, mengijinkan Dia berbicara, menguatkan, dan mempersiapkan kami untuk taat padaNya.

23 Juli 2012

Hari pertama dia jadi staf Perkantas. Bertepatan dengan momen PHC dimana semua staf dari daerah regional Jatim berkumpul. Dia mengambil komitmen untuk 3 tahun menjadi staf, sekaligus menjadi masa persiapan dia untuk bermisi nanti.

Oh ya. Dan ini terakhir kali kami nonton bioskop bersama dalam status sebagai pacar.

09-13 Agustus 2012

Setelah tak bertemu beberapa hari karena aku kamp, kami bertemu lagi di acara upgrading staf dan konsultasi pemuridan. Belakangan ini kami kembali lagi membatasi komunikasi. Aku bingung bagaimana harus menghadapinya. Aku sangat ingin untuk memberi perhatian dan menyatakan kasihku padanya, bertemu dia bicara banyak dengan dia, tapi aku tahu bahwa dia sedang berusaha keras untuk fokus pada Tuhan, dan aku harus menahan diri. Aku juga tak ingin karena perhatianku, dia berpikir aku berusaha agar dia tetap menjadi pacarku. Aku hanya ingin taat sama Tuhan. dan aku justru lebih suka kalau diapun taat sama Tuhan. Aku tahu pergumulan relasi ini cukup membebaninya, dan membebaniku juga.

14 Agustus 2012 – Melihat Jawaban Tuhan

Selesai menjalani rangkaian kamp 13 hariku. Kamp KTB, disambung KNPS, disambung Upgrading staf dan konsultasi pemuridan.

Firman Tuhan ini muncul berulang-ulang. Aku tahu, Tuhan sedang mempersiapkanku

Lukas 14:26 : Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Lukas 14:33 Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

Bukan itu saja. Beberapa minggu lalu, kami PA dari kitab Rut, dan belajar bagaimana Tuhan mengambil suami dan anak-anak Naomi, dan hingga akhirnya sumber pengharapan satu-satunya bagi dia adalah Tuhan. dan bagaimana Rut rela memilih jalan yang aneh, mengikuti mertua yang sudah tak bisa diharapkan lagi.

Tuhan punya cara sendiri untuk menyingkirkan segala tempat sandaran dan zona nyaman kita, hingga akhirnya kita sadar bahwa hanya Tuhan seharusnya tempat sandaran kita.

Thanks Lord karena mau repot-repot mempersiapkanku. Aku harus siap untuk melepaskan apapun demi tujuanMu yang lebih besar. Dari sharingnya diapun, dia banyak diteguhkan Tuhan terkait panggilannya. Ya.. kami sadar bahwa Tuhan sedang mempersiapkan kami masing-masing.

Menyangkal diri artinya menyerahkan segala hak dan impian pribadi kita, menaklukan semua itu bagi tujuan Tuhan yang lebih besar (Bill Hull – Choose the Life)

Malang, 22 Agustus 2012

Sehari setelah 4 tahun relasi kami sejak awal kami bergumul. Dan ini hari terakhir momen liburan. Liburan kami sejak tanggal 18 Agustus di habiskan di Nongkojajar. Aku tinggal di rumah pamanku, dan dia bersama seorang adik KTBnya retret pribadi di Wisma Baitani. Dan kemudian kemarin kami menuju ke Malang. Menginap di rumah kakak KTBnya.

Sejak hari terakhir dari konsultasi pemuridan, kedekatan relasi kami kembali seperti dulu. Ekspresi-ekspresi cinta yang selama ini tertahankan kembali muncul. Perasaan itu muncul kembali di antara kami. Sangat kuat. Namun dengan kembalinya kedekatan kami, makin membuat kami merasa takut kehilangan. Harus seperti apa Tuhan?

Sore itu, aku ajak dia jalan kaki berdua di sekitar kompleks perumahan kakak KTBnya. Di tengah kesejukan kota Malang sore itu, kami banyak berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan ke depan. Bahkan kami berbicara harus seperti apa relasi dan kedekatan kami ketika putus nanti. Ada perasaan sakit yang begitu kuat karena kami makin yakin bahwa kami akan berpisah. Konfirmasi firman Tuhan sudah cukup banyak. Tinggal bagaimana kami mentaatinya. Momen sentimentil terakhir.

27 Agustus 2012 – Masa tenang

Perasaan yang kuat itu sudah bisa dikendalikan sekarang. Minggu ini dia harus bersiap-siap pindah kos, dari daerah Petra ke daerah ITATS, karena itulah kampus yang akan dia dampingi sebagai staf Perkantas.

Kami makan pagi berdua, dan aku katakan padanya :

Aku siap dengan apapun yang akan terjadi. Silahkan kamu ambil keputusan. Mulailah hidupmu yang baru di tempat yang baru dan dengan ikatan relasi yang baru. Agar kamu terbiasa di tempat yang baru tanpa kehadiranku.

Dia hanya diam.

3 September 2012 – Akhirnya

Aku telah memberikanmu dan seluruh perasaanku untukmu kepada Allah. Ia yang akan mengerjakan apapun yang Ia inginkan ~ Jim Elliot

Kutipan di atas kudapat waktu membaca buku Elisabeth Elliot : Passion and Purity. Wajib baca bagi Anda yang sedang menggumulkan relasi.🙂

Dan kutipan itu jadi doaku pagi ini. Dia milikMu Tuhan. bukan milikku. Kalau aku masih menganggap dia milikku, pagi ini aku menyerahkannya pada-Mu. Tuhan tahu perasaanku, dan itupun aku serahkan pada-Mu. Engkau pemilik hidup kami. Jadilah kehendak-Mu

Pagi itu kami makan berdua di kantor. Dan aku sharing tentang penguatan yang kudapat dari buku itu. Dan terjadilah percakapan ini :

Dia      : Jadi kk sudah siap?

Aku      : Ya. Aku siap. Kamu sendiri?

Dia      : Ya. Aku juga

Aku      : Jadi apakah sekarang?

Dia      : Ya sekarang saja.

Aku      : Ok. Permintaan terakhir. Sore ini kita berdoa bersama yuk! Kita memulai dengan  berdoa, ayo akhiri dengan doa

Dia      : Jangan kak. Aku ga ingin merasa sedih sekarang. Nanti aja kalau aku sudah siap

Aku      : (setelah sedikit perdebatan) Ok. Kabari kalau kamu sudah siap untuk berdoa bersama

Tepat 2 bulan pergumulan ini, sejak 3 Juli – 3 September.  Mengakhirinya tanpa larut dalam kesedihan, tanpa air mata, dan bahkan hari itu kami tetap dengan aktifitas pelayanan kami masing-masing. 2 hari kemudian baru kami berdoa bersama.

Keesokan harinya dia menuliskan ini di blognya :

For you dan juga He is my refuge and fortress🙂

 Bersyukur karena diapun mendapatkan penghiburan di dalam Tuhan.

Rasa Syukur

Aku bersyukur kami pernah menjalani relasi ini. Memang tidak berakhir di garis finish yang kami impikan. Tuhan membelokannya menuju garis finish yang DIA inginkan.

Kami sedang menjalani babak baru kehidupan kami, dimana Tuhan akan menjadi satu-satunya tempat kami bersandar dan percaya. Dan kami sungguh rindu untuk taat pada apapun yang Dia mau.

Suatu saat, mungkin dia akan menikah dengan orang lain yang sedang Tuhan persiapkan juga untuk mengerjakan visi Allah yang besar. Dan jikalau masa itu datang, aku akan bersyukur dan bersukacita karena itu demi kepentingan kerajaan Allah di muka bumi.

DipilihNya untuk menjadi pelaku semua proses ini adalah anugerah

Meninggalkan segala sesuatu untuk mengerjakan panggilan Tuhan, sama sekali bukan pengorbanan, namun anugerah.

All that I have,

All that I am,

All that I hope to be,

I give to You…..

Tulisan-tulisan dia yang terkait pergumulan ini:

 My L****  Story.

For you

He is my refuge and fortress🙂

My mind

About akhung

I have decided to follow Jesus; No turning back. Leave everything to do Lord's will is not a sacrifice. But a mercy Lihat semua pos milik akhung

13 responses to “Between me, her, and GOD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: